بِــــــسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيـــمِ
SELAMAT DATANG DI BLOG IKKM BATAM - TERIMAKASIH ATAS KUNJUNGAN ANDA

PILIH MENU

.

Radio Online Minang Cimbuak                Radio Online Minang Cimbuak

Selasa, 05 Juli 2016

SEJARAH PULAU BATAM

http://ikkmbatam.blogspot.co.id/2016/07/sejarah-pulau-batam.html

Sampai saat kini, belum ada data valid yang menuturkan tentang asal muasal nama Kota Batam. Bahkan, hikayat atau legenda yang ada dan tertutur dari mulut ke mulut belum mampu utuh menjabarkan toponimi “Batam.” Yang ada, justru orang kerap memberi kepanjangan Batam, dengan berbagai versi.
Pada era 1980-an, ketika Batam mulai bergeliat, tumbuh menjadi kota industri, orang sekenanya memberi kepanjangan Batam. Ada yang menyingkat Batam dengan Bila Anda Tiba Akan Menyesal. Ada yang menyebutnya Bila Tabah Anda Akan Menang, dan lain sebagainya.  
Berbagai versi singkatan itu muncul, agaknya tidak lain karena literatur yang mendedah tentang penamaan Batam pada dekade itu, sangat minim. Orang-orang Batam yang telah mendiami pulau ini sejak lama pun, bisa dibilang tidak mengerti banyak mengapa kota pulau ini dinamai Batam. Tradisi lisan yang menceritakan tentang asal usul nama daerah, justru banyak merujuk pada nama kawasan atau kampung di sekitaran Batam seperti Jodoh, Nagoya, Batu Aji, Pulau Buluh, Batu Ampar, Kampung Agas, Tanjung Uma, dan lainya.
Namun belakangan, ketika Batam makin banyak dihuni penduduk dengan beragam etnis dari berbagai daerah di nusantara, orang kemudian mulai penasaran, ingin mengetahui lebih jauh tentang asal usul nama Batam beserta hikayat atau legenda yang melingkupinya.
Tapi itu pun hingga kini belum terjawab tuntas. Tapi demikian, lambat laun, muncul beberapa tulisan yang meski sedikit, telah menyinggung tentang toponimi Batam. Versinya beragam dan di-input dari berbagai sumber, terutama orang-orang lama yang justru berasal dari luar Pulau Batam.
Dari cerita lisan mengenai asal muasal nama Batam, memang tidak terperinci secara spesifik. Belum ada satu pun kajian yang mampu secara gamblang dan utuh menyajikannya. Sejumlah buku yang bertutur tentang hikayat rakyat di Kepulauan Riau (Kepri), sebagian isinya telahlah menyinggung perihal Batam, tetapi tidak dalam konteks holistik. Sifatnya parsial, terpenggal-penggal.
Versinya juga beragam alias tidak satu kata. Satu lagi, buku-buku tersebut, terdistribusi dalam jumlah sangat terbatas sehingga tidak mampu terakses luas oleh khalayak. Oleh karena itulah tak mengherankan kalau hikayat asal muasal Batam dalam beberapa dekade, seolah tenggelam begitu saja. Akibatnya, banyak orang yang telah bertahun-tahun bermastautin di Batam, tergagap-gagap ketika ditanya tentang asal usul Batam, tanah tumpah darah, tempatnya bernaung dan beranak pinak.
Berbagai versi tentang hikayat Batam itu, satu di antaranya disebutkan dalam buku “Patahnya Gunung Daik,” tulisan Drs Abdul Razak. Di buku itu disebutkan bahwa “Batam” merupakan akronim dari “batu ampa,” merujuk pada cerita si Badang dan Putri Tumasik yang dikenal dalam khasanah hikayat rakyat Melayu. Tapi versi lain menyebut, “Batam” berasal dari kata “Batang.” Konon, ketika pertama kali tanah semenanjung tercipta, kawasan itu terkenal sangat labil. Ketika hembusan angin Selatan datang, tanah semenanjung itu terbuai-buai diterpa angin kencang.
Untuk melindungi kawasan labil itulah, dewa penunggu semenanjung meletakkan berbagai batang kayu yang masih berumbi di Belakang Selatan Semenanjung. Di mata Timur, rumpun batang itu dibentang (baca: bentan) lagi dengan rumpun batang yang lain. Lalu di bagian Selatan rumpun batang itu di Rempang dan di Galang pula dengan rumpun-rumpun batang lain. Belakangan, semua itu menjadi asal usul perkataan ‘Bintan,’ ‘Rempang.’ dan “Galang.’
Versi penamaan ‘Batam’ lainnya, tersebutkan pula dalam hikayat “Dari Nongsa ke Pulau Terong,” yang ditulis Abdul Basyid dan Raja Erwan. Versi ini menyebut, kata ‘Batam’ berasal dari kata pelanduk putih. Kalau ditilik dari akronimnya, kata ‘Batam’ dan ‘pelanduk putih’ memang tidak memiliki korelasi secara tekstual. Tetapi paling tidak, hikayat ini mampu memperkaya khasanah jagad ke-hikayat-an  Batam.
Hikayat itu bermula dari sepasang suami istri Bujang Jenali dan Siti Janilun. Keduanya hidup di kampung sebelah Utara, yang kini bernama Batam. Sang suami, sehari-hari bekerja menangkap ikan dan berburu pelanduk. Tapi entah bagaimana, satu ketika Siti Janilun ingin sekali melihat sang suami sepulang berburu membawa perlanduk berbulu hitam atau kelabu. Tidak putih seperti biasa Bujang Jenali memberikan kepadanya.
Tapi meski berusaha sekuat tenaga, Bujang Jenali tak sanggup memenuhi permintaan istrinya, karena setiap berburu ia tak pernah menemukan pelanduk berbulu hitam atau kelabu. Hingga pada satu hari sepulang dari berburu, ia kaget menemukan istrinya dibelit ular. Dengan sekali tebas, kepala ular yang memeluk pinggang istrinya itu terpisah dari badannya.
Sejak peristiwa itu, Bujang Jenali pun makin membulatkan tekad, untuk mendapatkan pelanduk yang tidak berwarna putih agar istrinya tidak kempunan. Namun apakah pada akhirnya ia berhasil atau tidak mendapatkan pelanduk seperti yang diinginkan istrinya, cerita ini tidak menjabarkan detil hingga ke sana. Yang pasti, kalau merujuk pada cerita tersebut, sejak itu pula, pulau tempat mereka berdiam disebut orang Pulau Pelanduk Putih yang kelak jadi asal-usul nama  “Pulau Batam.”
 (Edi Sutrisno)
Sumber : http://sampuawaltosilajara.blogspot.co.id

Idul Fitri Dengan Meraih Taqwa dan Kembali Fitrah


http://ikkmbatam.blogspot.com/2016/07/idul-fitri-dengan-meraih-taqwa-dan.html



Tak terasa bulan Ramadhan yang mulia telah berakhir dan kita akan menemui Idul FitriI, sebuah hari paling istimewa dalam kalender Islam. Idul Fitri adalah anugerah Allah kepada orang mukmin yang menunaikan ibadah puasa sepanjang Ramadan. Ia sebagai tanda kemenangan melawan segala tuntutan nafsu yang menggoda jiwa selama sebulan berpuasa.
Orang mukmin yang mengetahui betapa penuh berkah dan mulia bulan Ramadhan, sangat ingin agar sepanjang tahun Ramadah terus, bahkan kalau perlu tidak usah ada hari raya. Tentu saja keinginan ini tidak dapat terpenuhi karena Allah telah menetapkan kewajiban Ramadhan hanya sebulan dalam satu tahun. Seusai shaum Ramadhan, disyariatkan Hari Raya Idul Fitri sebagai hari penuh kegembiraan. Wajarlan kaum Muslim bergembira pada saat hari raya tersebut, namun kegembiraannya bukan karena pesta dan hiburan, bukan pula karena telah bebas dari kungkungan puasa. Sebab kebahagiaan yang ada adalah karena telah berhasil menunaikan salah satu kewajiban dan kesiapan untuk menunaikan kewajiban berikutnya.
Nabi Muhammad menyambut Idulfitri dengan penuh kesyukuran lantaran nikmat yang dikurniakan Allah. Diriwayatkan walaupun beliau bersedih dengan kepergian Ramadan, namun Idulfitri disambut dengan suasana ceria dan gembira.
Beliau menyambut hari raya dengan memakai pakaian terbaik yang beliau punya. Malah, Beliau menyarankan kepada sahabatnya supaya berpakaian bagus seperti disebut oleh cucu Beliau Hassan:
“Nabi memerintahkan kami pada pagi hari raya supaya memakai pakaian yang paling baik yang kami miliki dan berwangian dengan wangian yang paling baik yang kami miliki.”

Imam Ibn Qayyim menceritakan bahwa pada hari raya Nabi memakai pakaian yang paling bagus. Beliau mempunyai pakaian khas yang biasanya dipakai pada dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan Jumaat.
Hari Raya Idul Fitri memang pantas untuk dirayakan oleh kamu muslimin karena mereka telah memperoleh kemenangan. Dengan pelaksanaan ibadah puasa dan ibadah-ibadah sunnah lainnya selama sebulan penuh, kaum muslim telah digembleng sehingga bisa menjadi orang-orang yang bertakwa dan diampuni segala dosanya sehingga kembali menjadi fitrah. Inilah kemenangan hakiki yang seharusnya kita raih dan patut kita rayakan.

Ketika berniat berpuasa, hendaklah kita menargetkan puasa kita dalam rangka mencapai derajat taqwa sebagaimana Firman Allah dalam QS Al Baqarah [2]: 183:
”Wahai orang-orang yang beriman! Kamu diwajibkan berpuasa sebagaimana diwajibkan ke atas orang-orang yang terdahulu dari kamu supaya kamu bertakwa”.

Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan: Takwa adalah kamu senantiasa mengingat Allah dan tidak melupakanNya, mematuhiNya dan tidak mendurhakai-Nya, mensyukuri dan tidak mengingkariNya.

Umar Ibn al-Khatab bertanya kepada Ubai bin Ka’ab sebutkan ciri-ciri takwa kepadaku? Jawab Ubai: Apakah engkau pernah melintasi kawasan dengan penuh duri? Umar menjawab: Ya. Katanya: Apa yang engkau lakukan? Umar menjawab: Saya amat berhati-hati berjalan untuk menghindari terkena duri. Kata Ka’ab: begitulah ketakwaan.

Dengan takwa seolah-olah manusia mendapat berbagai jenis keistimewaan sehingga Imam al-Ghazali menyebut didalam kitab Minhaj al-Abidin yang diantaranya:

  • 1.       Mendapat bantuan dan dukungan dari Allah.
  • 2.       Diberikan kemudahan dalam kehidupan.
  • 3.       Dimurahkan rezeki.
  • 4.       Dimenangkan atas musuhnya
  • 5.       Diberi hidayah dan taufik.
  • 6.       Diberi balasan surga pada hari akhirat.
  • 7.       Diselamatkan dari neraka.

  1. Merasakan pengawasan daripada Allah s.w.t Yang Maha Esa Lagi Maha Tinggi
  2. Melaksanakan ibadat yang wajib dan juga yang sunat dengan penuh keikhlasan.
  3. Menjauhi segala maksiat baik yang lahir mahupun yang batin seperti riak, ujub, takabur dan lain-lain.
  4. Senantiasa mengkaji sifat orang yang bertakwa dan sejarah mereka seperti sejarah para anbiya terutama sirah Nabi Muhammad s.a.w dan para salafus salih, terutama para sahabat.
  5. Senantiasa bergaul dengan orang-orang yang soleh. Pada saat yang sama menjauhi  orang-orang yang fasik dan yang durhaka kepada Allah.
  6. Banyak tadabbur dan mengkaji ayat-ayat Allah, baik ayat-ayat kauniyah (alam) atau pun ayat-ayat maqru’ah (ayat-ayat al-Quran) kerana dapat mendatangkan keinsafan dan yang lebih utama membawa kepada makrifatullah. Dengan makrifah seseorang sudah pasti berjalan atas keredaan Allah tanpa merasa goyah dan dapat terpedaya oleh musuh yang nyata yakni syaitan.

Oleh karena itu, marilah sama-sama meningkatkan prestasi ibadat puasa kita untuk mencapai ketakwaan dan dengannya kita menjadi golongan yang meraih kebahagiaan dunia seterusnya merentasi akhirat.
Sementara itu, proses berlapar dan menahan diri daripada makan minum serta melakukan perkara-perkara yang membatalkan puasa memberikan isyarat bahawa kita dilatih supaya meletakkan kepentingan Allah mengatasi kepentingan perut, nafsu dan diri sendiri. Inilah makna dan inti dari syariat puasa di bulan Ramadhan.

            Mengapa Hari Raya Idul Fitri dinamakan juga Hari Raya Fitrah? Karena hari itu hari di mana manusia keluar dari Ramadhan membawa diri yang suci bersih lahir dan batin, sebagaimana fitrah semula jadinya. Sebab latihan-latihan ibadah yang diperintahkan di dalam bulan Ramadhan, kalau dilaksanakan mengikuti displin syariat lahir dan batinnya mampu mengembalikan manusia kepada fitrah murni, sama seperti saat mula-mula dilahirkan ke dunia. Sabda Rasulullah SAW:
”Manusia dilahirkan dalam keadaan suci bersih seperti kain putih. Ibu bapanyalah yang menjadikan Yahudi, Nasrani dan Majusi”

Fitrah manusia sewaktu baru datang ke dunia, yakni sebelum diracuni oleh kesesatan dan maksiat, adalah bersih dari segala kejahatan lahir dan batin. Hati manusia asalnya atau fitrahnya adalah baik, menyintai kebaikan, kenal dan taat kepada Allah SWT. Sebab hati memang mengakui dirinya adalah hamba Allah. Hati tidak setuju kalau dia dikatakan hamba syaitan, hamba nafsu, atau lain-lain selain Tuhan.
” Bukankah Aku ini Tuhan kamu? Mereka menjawab Ya, kami menjadi saksi (Engkaulah Tuhan kami).” (Al A’ raf: 172)

Demikian pengakuan roh sewaktu belum dilahirkan ke dunia, yakni ketika dihadapkan ke hadrat Allah. Roh (Hati) waktu itu kenal Allah dan mengaku hamba-Nya. Tapi bila tiba ke dunia yang fana ini, roh diselimuti nafsu dan syaitan dan dipengaruhi oleh segala macam tipu daya kenikmatan dan kelezatan dunia, maka jadilah ia durhaka dan lupa pada Tuhan yang sebenarnya yakni Allah SWT.
Lalu manusia bertuhankan kepada selain Allah baik sadar atau tidak. Umat Islam, sekalipun mengaku Allah Tuhannya, tapi dalam tindak-tanduknya, mereka bertuhankan hawa nafsu.  Amalan lahir, apalagi amalan batin yang mereka lakukan adalah perbuatan-perbuatan yang diperintahkan oleh nafsu. Firman Allah :
”Maka pernahkah engkau perhatikan orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya?” (Al Jaathiah: 23)
Tamak dan loba, cinta dunia (hingga lupa Akhirat), gila pangkat dan sanjungan hingga tindas-menindas dan zalim menzalimi, sombong, angkuh, takabur hingga hilang timbang rasa dan belas kasihan sesama manusia, berdengki berdendam hingga sanggup fitnah memfitnah, umpat mengumpat, mengadu domba, mengambil hati dan menjilat. Bakhil atau pelit hingga terjadilah si kaya bertambah kaya, semiskin makin miskin, mementingkan diri sendiri dan menyalah-gunakan kuasa hingga terbiasa melihat dan membiarkan kesusahan yang ditanggung oleh orang lain. ltulah di antara kejahatan manusia dengan sesama manusia kerana bertuhankan nafsu. Dengan Allah lebih-lebih lagi kejamnya manusia ini.
Kalau begitu wajiblah kila melakukan amalan-amalan yang dapat membersihkan diri kita. Amalan berpuasa adalah amalan yang  sebaik-baiknya. Sebab itu Allah mewajibkan kita berpuasa di bulan Ramadhan sebulan lamanya. Puasa yang dilakukan dengan  sebaik-baiknya, akan dapat mengembalikan manusia kepada fitrahnya. Hal ini berlaku karena sepanjang Ramadhan kita mengerjakan amalan-amalan seperti berikut, Puasa, Sembahyang sunat Terawih, Mengeluarkan zakat fitrah dan sedekah, serta  Membaca Al Quran.
Semua ibadah ini adalah tarbiah atau pendidikan yang dapat membuang sifat-sifat yang jahat, kemudian menggantikannya dengan sifat-sifat fitrah yang murni. Dengan kata lain, dapat membuang sifat mazmumah untuk diganti dengan sifat-sifat mahmudah

Disekitar kita terdapat bermacam benda yang dapat dijadikan contoh sebagai kehidupan manusia. Komputer contohnya ketika mula-mula dibeli dalam keadaan baik dan lancar tanpa ada gangguan dalam mengendalikannya atau ketika surf internet dan bermain games.
Tetapi oleh karena kita tidak pandai menjaga komputer tersebut dalam masa setahun atau lebih pasti komputer tersebut selalu hang dan dimasuki virus trojan dan brontok yang susah dibuang. Tidak dapat tidak komputer tersebut perlu diformat lagi supaya kembali seperti asal dan untuk menjaga hardware dari kerusakan permanen.
Sebagaimana komputer, manusia juga lahir dalam keadaan bersih dan suci yang dalam bahasa agama disebut sebagai ‘fitrah’ seperti firman Allah dalam Surah Ar-Rum[30]: 30
“ Hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang menciptakan manusia dengan fitrah itu, tidak ada perubahan ke atas fitrah tersebut. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakkan manusia tidak mengetahuinya”

Dalam perjalan hidup manusia dari Ramadhan tahun lalu sampai ke hari ini pastilah terdapat noda-noda hitam yang akan membuat hati tertutup dari menerima kebenaran kesan dari luka yang bernanah yang susah untuk sembuh juga turut menular ke masyarakat seluruhnya.
Jika komputer kita rawat dengan memformat kembali komputernya dan memasukkan fresh program ke dalamnya tetapi bagi manusia Allah S.W.T telah menyediakan bulan Ramadhan sebagai bengkel untuk merawat penyakit-penyakit hati manusia supaya menjadi bersih dan suci seperti fitrah yang asal.
Apa yang diharapkan selepas di masukkan ke bengkel Ramadhan manusia tersebut akan keluar dengan semangat baru dan menjadi seorang yang Muttaqin iaitu seorang yang takut kepada kebesaran Allah S.W.T.
Di dalam bengkel tersebut manusia akan digandakan kekuatannya  dengan memberikan super power kepada rohani yaitu pahala yang dibuat akan digandakan dengan sebanyak-banyaknya yang tidak ada di bulan lain. Begitu juga jasmani akan dikuatkan dengan solat terawih dan tahajjud yang akan memberikan kekuatan yang lebih pada tubuh.
Berpuasa di siang hari juga dapat menyembuhkan penyakit-penyakit tubuh, sabda Nabi yang maksudnya:
”Perut adalah sumber timbulnya penyakit dan mengosongkannya adalah obatnya”.
Sehinggakan doktor pun mengakui ketika ingin membedah pesakit dia akan meminta pesakit tersebut supaya berpuasa. Inilah buktinya yang tidak dapat akal manusia memahaminya.

Penutup

            Pada penghujung Ramadan ini setiap Muslim sewajarnya bermuhasabah dan menilai diri terhadap ibadat puasa yang dilaksanakan. Apakah ibadat puasa kali ini benar-benar mencapai tujuan yang ditetapkan Allah yaitu untuk melahirkan insan bertakwa? Apakah setiap Muslim dapat meraih derajat insan bertakwa dan akhirnya kembali kepada fitrah setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan?
Idul Fitri bukan akhir dari ketaatan, melainkan awal dari ketaatan baru. Apabila sikap setelah Ramadhan tidak menunjukkan peningkatan ketakwaan, maka kita perlu merenungkan sabda Rasulullah saw:
”Betapa banyak orang yang berpuasa tidak mendapatkan apapun kecuali lapar dan dahaga saja” (HR Ibnu Huzaimah).
Wabillahittaufiq wal hidayah.


Senin, 04 Juli 2016

OBAT ASAM URAT DAN REMATIK ALAMI

OBAT ASAM URAT DAN REMATIK ALAMI

Penyakit asam urat dan rematik adalah satu diantara penyakit yang seringkali kita jumpai di lingkungan sekitar kita.

http://ikkmbatam.blogspot.com/2016/07/obat-asam-urat-dan-rematik-alami.html

       Bila orang dahulu menganggap kalau yang bisa terkena penyakit asam urat dan rematik hanya orang­orang yang telah berumur lanjut, kini anggapan tersebut terbantahkan, lantaran telah banyak orang­orang yang masihlah muda bahkan juga anak­anak bisa terkena penyakit tersebut . Oleh karenanya, sebaiknya anda mengetahui tanaman obat asam urat serta rematik untuk berjaga­jaga bila satu waktu atau orang terdekat terserang penyakit tersebut . 
     
       Bila kita bingung membedakan pada asam urat serta rematik, sederhananya yaitu asam urat adalah penyakit yang tentu rematik, tetapi rematik belum tentu asam urat. Walau penyakit ini tak seberbahaya kanker atau tumor, namun penyakit ini bakal begitu mengganggu aktivitas anda serta membatasi ruangan gerak anda. 

Jadi ada bagusnya kita tahu tanaman obat asam urat serta rematik ini. Penyakit ini telah ada mulai sejak zaman jaman dulu. 
1. Jahe 


http://ikkmbatam.blogspot.com/2016/07/obat-asam-urat-dan-rematik-alami.html


Anda mungkin saja cukup familiar dengan tanaman ini. Nyatanya jahe termasuk juga dalam daftar tanaman obat asam urat serta rematik. 
Langkah konsumsi jahe untuk jadikan obat asam urat serta rematik yaitu dengan memotong­motong sekitaran dua ibu jari jahe, dan lalu jahe di rebus dengan sedikit penambahan gula dalam satu gelas air, hingga mendidih serta masak. Bila anda mempunyai madu murni, anda dapat menambahkan satu sendok madu murni. Mengkonsumsi minuman jahe ini dengan teratur.


Tanaman obat asam urat serta rematik setelah itu yaitu akar pepaya gantung. 
Rebus akar pepaya sejumlah lima buah sesudah dicuci serta dipotong­potong. Tambahkan juga lengkuas sejumlah 3 sendok makan saat merebusnya. Rebus bahan itu dengan memakai air sejumlah 4 gelas, sampai airnya menyusut banyak satu gelas. Untuk hasil yang optimal, mengkonsumsi air ramuan itu sejumlah tiga kali satu hari.


Cengkeh juga nyatanya bisa anda pakai sebagai tanaman obat asam urat dan rematik. 
Langkahnya dengan menumbuk cengkeh serta jahe dengan perbandingan satu banding satu. Racikan ini bukanlah untuk dikonsumsi, tetapi untuk jadikan obat luar di bagian yang merasa asam urat atau rematik.


Yang termasuk juga dalam daftar tanaman obat asam urat serta rematik setelah itu adalah daun sambiloto, hal karena daun sambiloto mempunyai kandungan alkane, flavanoid serta kandungan mineral, seperti kalsium serta kalium yang berperan untuk pencegah radang serta menyembuhkan rasa nyeri, dan sebagai penawar racun.

http://ikkmbatam.blogspot.com/2016/07/obat-asam-urat-dan-rematik-alami.html

Senyawa yang terdapat pada daun salam nyatanya berguna juga untuk menyembuhkan asam urat serta rematik. 

http://ikkmbatam.blogspot.com/2016/07/obat-asam-urat-dan-rematik-alami.html

Tanaman obat asam urat serta rematik yang setelah itu yaitu kumis kucing. Karena kumis kucing juga mempunyai kandungan senyawa serta mineral yang berperan untuk menyembuhkan asam urat serta rematik. Pada kumis kucing juga ada senyawa osthosiponin glikosida, senyawa itu bermanfaat untuk buang asam urat yang berlebihan didalam tubuh.


Daun sirsak juga nyatanya masuk kedalam daftar tanaman obat asam urat serta rematik selain bisa menyembuhkan penyakit kanker. 
Langkahnya dengan menum"buk daun sirsak seperlunya sesudah dicuci lantas dioles-oleskan di bagian tubuh yang terasa terserang asam urat serta rematik.

Itulah beberapa tanaman obat asam urat serta rematik, mudah-mudahan infromasi ini bermanfaat 
serta membuat anda lebih arif untuk mengobati penyakit asam urat serta rematik, tanpa harus konsumsi obat-­obatan kimia.

Serahkan semuanya kepada ALLAH Subahanahuwata'ala
Insha Allah Sehat

Sumber :
http://www.portalberita89.com

Rabu, 29 Juni 2016

OBAT GINJAL ALAMI

SALAH SATU OBAT GINJAL ALAMI



Ginjal merupakan salah satu organ yang memiliki peranan penting didalam tubuh kita, untuk itu sudah semestinya kita menjaga dan memelihara kesehatan organ ginjal tersebut agar selalu berfungsi dengan baik dan terhindar dari berbagai masalah atau gangguan serius. Untuk lebih jelasnya lagi mengenai cara atau tips menjaga kesehatan ginjal secara alami, mari kita simak selengkapnya disini.

Ber-tahun2 Ginjal kita menyaring darah denga n membuang: Garam, Racun dan yang tidak diinginkan memasuki tubuh kita. Seiring berjalannya waktu, terjadi akumulasi garam dan memerlukan perawatan pembersihan.

CARA CUCIGINJAL ALAMI


  1. Ppertama-tama ambil seikat Seledri.
  2. Cucilah sampai bersih, kemudian dipotong kecil2 dan masukkan ke dalam panci.
  3. Lalu tuangkan air bersih dan didihkan selama sepuluh menit dan biarkan dingin.
  4. Kemudian saring dan tuangkan dalam botol yang bersih dan simpan di dalam kulkas hingga dingin.
  5. Minum satu gelas setiap hari dan Anda akan melihat semua akumulasi garam dan racun lain yang keluar dari ginjal Anda sewaktu buang air kecil.

Anda juga akan melihat perbedaan yang tidak pernah anda rasakan sebelumnya.Seledri dikenal sebagai pengobatan terbaik untuk membersihkan ginjal dan itu alami.


TAWAKAL KEPDA ALLAH SWT

Insha Allah sehat.
Semoga bisa bermanfaat

https://id.wikipedia.org/wiki/Ginjal

Selasa, 28 Juni 2016

HAKIKAT PUASA ke 6

HAKIKAT PUASA ke 6

http://ikkmbatam.blogspot.co.id/



Hakekat Puasa ke 6

Allah Ta'ala telah kabarkan hikmah yang agung dan faedah yang mulia berupa diraihnya ketakwaan, sedangkan takwa adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan

Dalil-dalil yang menunjukkan hakikat puasa yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.

Puasa yang hakiki adalah puasa membuahkan ketakwaan
Allah Ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al-Baqarah: 183).
Allah Ta’ala telah kabarkan hikmah yang agung dan faedah yang mulia berupa diraihnya ketakwaan, sedangkan takwa adalah melakukan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan hikmah diperintahkannya berpuasa,
لما فيه من زكاة النفس وطهارتها وتنقيتها من الأخلاط الرديئة والأخلاق الرذيلة
“Di dalam ibadah puasa itu terdapat kesucian jiwa dan kebersihannya serta mensterilkan dari kotoran yang buruk dan akhlak yang hina” (Tafsir Ibnu Katsir).
Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan lebih rinci tentang bentuk ketakwaan yang diperoleh dengan berpuasa, setelah menyebutkan firman Allah:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Agar kalian bertakwa”, dengan mengatakan,
فإن الصيام من أكبر أسباب التقوى, لأن فيه امتثال أمر الله واجتناب نهيه
“Sesungguhnya puasa termasuk salah satu sebab terbesar diraihnya ketakwaan, karena di dalam ibadah puasa terdapat bentuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.”
فمما اشتمل عليه من التقوى: أن الصائم يترك ما حرم الله عليه من الأكل والشرب والجماع ونحوها, التي تميل إليها نفسه, متقربا بذلك إلى الله, راجيا بتركها, ثوابه، فهذا من التقوى.
“Yang termasuk dalam cakupan takwa (yang terdapat dalam ibadah puasa ini, pent.) adalah bahwa seorang yang berpuasa meninggalkan perkara yang diharamkan oleh Allah berupa makan, minum, bersetubuh, dan lainnya yang disenangi oleh nafsunya dengan niat mendekatkan dirinya kepada Allah, mengharap pahala-Nya dengan meninggalkan perkara-perkara tersebut, maka ini termasuk bentuk ketakwaan.”
ومنها: أن الصائم يدرب نفسه على مراقبة الله تعالى, فيترك ما تهوى نفسه, مع قدرته عليه, لعلمه باطلاع الله عليه،
“Di antara bentuk-bentuk ketakwaan dari ibadah puasa ini adalah bahwa orang yang berpuasa melatih dirinya untuk senantiasa merasa diawasi oleh Allah Ta’ala, sehingga ia meninggalkan sesuatu yang disukai dirinya, padahal ia memiliki kemampuan untuk melakukannya, karena ia meyakini bahwa Allah mengawasinya.”
ومنها: أن الصيام يضيق مجاري الشيطان, فإنه يجري من ابن آدم مجرى الدم, فبالصيام, يضعف نفوذه, وتقل منه المعاصي،
“Di antaranya juga bahwa puasa itu menyempitkan jalan-jalan setan dalam tubuh manusia, karena setan berjalan dalam diri keturunan Nabi Adam -‘alaihis salam- di tempat aliran darah. Maka dengan puasa melemahkan kekuatan setan dan menjadi sedikit kemaksiatan karenanya.”
ومنها: أن الصائم في الغالب, تكثر طاعته, والطاعات من خصال التقوى،
“Di antaranya pula bahwa orang yang berpuasa pada umumnya banyak melakukan ketaatan, sedangkan ketaatan adalah bagian dari ketakwaan.”
ومنها: أن الغني إذا ذاق ألم الجوع, أوجب له ذلك, مواساة الفقراء المعدمين, وهذا من خصال التقوى.
“Di antaranya adalah orang yang kaya jika merasakan pedihnya lapar (saat berpuasa), hal itu mendorongnya untuk meringankan kesulitan orang-orang  fakir yang tak berharta, dan ini adalah bagian dari ketakwaan” (Tafsir As-Sa’di)
Puasa yang hakiki adalah puasa yang bersih dari ucapan dan perbuatan yang haram
Dalam Hadits dari riwayat Al-Bukhari, bahwa sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan yang haram, maka Allah tidak menginginkan (tidak memberi pahala) aktifitas meninggalkan makan dan minum yang dilakukannya (puasanya)” (HR. Al-Bukhari).
Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,
فأما قول الزور فهو: كُلُّ قولٍ محرّم من السب، والشتم، والكذب، والغِيبة، والنّميمة والفحش… وأما العمل بالزور فهو: العمل بكل فعل محرم من الغش والخيانة والخيانة في البيع والشراء وغيرهما والربا صريحًا كان أو تحيُّلاً
“Maka adapun ucapan “az-zuur” adalah setiap ucapan yang haram, baik berupa mencela, mengumpat, dusta, menggunjing, mengadu domba…dan adapun amal “az-zuur” adalah setiap perbuatan yang haram berupa penipuan , khianat, khianat dalam jual beli dan selainnya, dan riba yang terang-terangan ataupun yang akal-akalan” (http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_144.shtml)
Adapun tentang makna  “maka Allah tidak menginginkan…” dalam hadits di atas, telah dijelaskan oleh Ibnul ‘Arabi rahimahullah yang dinukilkan dalam kitab Fathul Bari,
مقتضى هذا الحديث أن من فعل ما ذكر لا يثاب على صيامه ، ومعناه : أن ثواب الصيام لا يقوم في الموازنة بإثم الزور وما ذكر معه
“Konsekuensi yang ditunjukkan Hadits ini bahwa barangsiapa yang melakukan larangan yang disebutkan dalam Hadits ini maka puasanya tidak diberi pahala, maksudnya bahwa pahala puasanya tidak bisa mengalahkan dosa “az-zuur” dan apa yang disebutkan bersamanya.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukilkan perkataan Al-Baidhawi rahimahullah dalam Fathul Bari,
ليس المقصود من شرعية الصوم نفس الجوع والعطش ، بل ما يتبعه من كسر الشهوات وتطويع النفس الأمارة للنفس المطمئنة ، فإذا لم يحصل ذلك لا ينظر الله إليه نظر القبول ، فقوله : ليس لله حاجة مجاز عن عدم القبول ، فنفى السبب وأراد المسبب ، والله أعلم .
“Bukanlah maksud disyari’atkannya puasa adalah lapar dan dahaganya, namun maksudnya adalah perkara yang mengikutinya berupa menundukkan syahwat dan memudahkan jiwa yang sifatnya memerintahkan kepada yang buruk, untuk menjadi jiwa yang tenang dalam keimanan, maka jika tidak didapatkan hal itu ,maka Allah tidak melihatnya dengan pandangan penerimaan (tidak memberi pahala, pent.)”
Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,
أي: أن الله تعالى لا يريد منَّا من الصيام أن ندع الطعام والشراب ولكن يريد منَّا أن ندع قول الزور والعمل به والجهل
“Yaitu bahwa Allah Ta’ala tidaklah menghendaki dari ibadah puasa kita , (sekedar) meninggalkan makan dan minum, namun (hakekatnya) menghendaki dari kita agar kita meninggalkan ucapan dan perbuatan haram dan tindakan bodoh” (http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_144.shtml)
Beliau juga berkata:
فالذي لا يترك هذه الأشياء لم يَصُمْ حقيقةً، فهو قد صَامَ عمَّا أحلَّ اللهَ، وفعل ما حرَّم الله
“Maka orang yang tidak meninggalkan meninggalkan perkara-perkara ini (ucapan dan perbuatan haram dan tindakan bodoh), maka hakekatnya ia tidak puasa, karena memang (zhahirnya) ia puasa (menahan) dari perkara yang dihalalkan oleh Allah, namun ia melakukan perkara yang diharamkan oleh-Nya”
(
http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=29384).
Puasa yang hakiki adalah puasa yang berbuah ampunan Allah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,
صعد النبي صلى الله عليه وسلم المنبر فقال: آمين، آمين، آمين، قيل يا رسول الله إنك صعدت المنبر فقلت: آمين آمين آمين، قال: أتاني جبريل عليه الصلاة والسلام فقال: من أدرك شهر رمضان فلم يغفر له فدخل النار فأبعده الله ، قل : آمين ، فقلت: آمين
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah naik mimbar kemudian berkata, ‘Amin, Amin, Amin’ Ditanyakan kepadanya, ‘Ya Rasulullah, (mengapa) Anda naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?’ Beliau bersabda,
‘Sesungguhnya Jibril ‘alaihish shalatu was salam datang kepadaku, dia berkata, ‘Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan namun tidak diampuni dosanya, maka akan masuk Neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan, ‘Amin’, maka akupun mengucapkan, ‘Amin’
” (HR. Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari kedua Hadits tersebut, nampaklah bahwa puasa yang dikehendaki oleh Allah adalah puasa yang membuahkan ampunan-Nya.
Puasa yang hakiki adalah puasa  yang bersih dari ucapan keji dan tindakan bodoh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
-‏الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلا يَرْفُثْ وَلا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ ـ مَرَّتَيْنِ
“Puasa itu adalah perisai, maka janganlah (seseorang yang sedang berpuasa) mengucapkan ucapan yang kotor, dan janganlah bertindak bodoh, dan jika ada orang yang sewenang-wenang merebut haknya atau mencelanya, maka katakan, ‘Saya sedang puasa’ -dua kali-” (HR. Al-Bukhari).
Penjelasan
Puasa adalah sebuah syari’at yang dimaksudkan agar orang yang melakukannya menahan diri dari menuruti hawa nafsu, agar menjadi perisai bagi dirinya dari api Neraka di akhirat kelak karena Neraka memang diliputi oleh hawa nafsu (syahwat).
Nah, untuk meraih maksud puasa yang hakiki inilah, kita diperintahkan untuk menahan diri dari semua perkara yang dilarang oleh Allah Ta’ala, di antaranya adalah menahan diri dari mengucapkan ucapan yang kotor dan bertindak bodoh, serta tidak meladeni orang yang memancing emosi kita, dikarenakan hal itu bisa menodai puasa kita.
Itulah hakikat puasa yang sesungguhnya, ia bukanlah sekedar menahan diri dari makan dan minum semata.
Puasa yang hakiki bukanlah sekedar menahan makan dan minum
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش
“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga” (HR. Ibnu Majah, Al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani berkata Hasan Shahih).
Penjelasan
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan keadaan puasa banyak orang, bahwa mereka tidak mendapatkan apapun kecuali lapar dan dahaga. Dengan demikian sesungguhnya orang yang puasanya sekedar menahan dari makan dan minum, dan pembatal puasa yang lainnya, namun tidak menjauhi keharaman-keharaman yang lain, maka hakikatnya ia belum mencapai hakikat puasa yang sebenarnya.
Penutup:
Akibat ibadah yang tidak berbuah ketakwaan dan kesucian jiwa
Ada sebuah kisah yang di dalamnya terdapat pelajaran besar, agar kita dalam memandang suatu ibadah, tidak terbatas kepada lahiriyah amal semata, namun mampu meneropong hakikat sebuah amal ibadah.
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu berkata:
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ! إِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا وَصِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا – غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي النَّارِ .  قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ! فَإِنَّ فُلَانَةَ – يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا وَصَدَقَتِهَا وَصَلَاتِهَا – وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنْ الْأَقِطِ وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا ؟ قَالَ : هِيَ فِي الْجَنَّةِ )
“Seseorang bertanya, Wahai Rasulullah Seseungguhnya ada seorang wanita yang terkenal dengan banyaknya shalat, puasa dan sedekah, hanya saja ia dikenal pula suka menyakiti tetangganya dengan lisannya? Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda, ‘Dia masuk Neraka.’ Lalu orang tersebut berkata lagi, “Wahai Rasulullah! seungguhnya ada seorang wanita yang dikenal sedikit puasa, sedekah, dan shalatnya, dan dia bersedekah dengan sepotong keju, namun ia tidak menyakiti tetangganya dengan lisannya. Beliau sallallahu’alaihi wa sallam bersabda ‘Dia masuk Surga’” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Al-Mundziri).
Nasihat Syaikh Muhammad Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah
Beliau suatu saat mengatakan, “Seharusnya bagi kita -ketika kita sedang puasa- takwa kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla lebih besar daripada takwa kita pada saat sedang tidak berpuasa, walaupun takwa itu wajib dilakukan, baik pada saat tidak puasa maupun pada saat puasa, akan tetapi seharusnya dalam memperhatikan ketakwaan pada saat berpuasa itu lebih besar. Dan saya menduga, seandainya seseorang menahan diri dari kemaksiatan sebulan penuh, maka ia akan berubah cara beragamanya dan tingkah lakunya” (http://www.ajurry.com/vb/showthread.php?t=29384).
Beliau juga mengatakan, “Janganlah Anda mensikapi hari-hari puasa Anda, sama seperti mensikapi hari-hari ketika tidak puasa” (http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_144.shtml). Walhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat.









Penulis: Ust. Sa’id Abu Ukasyah